Kamis, 26 Maret 2009

MEMERANGI EGO PRIBADI DALAM BERORGANISASI

  1. Prolog

Mengikuti suatu organisasi dan ikut serta terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang di ada didalamnya adalah suatu hal yang menyenangkan sekaligus suatu hal yang membanggakan. Maka tidak heran jika lalu banyak orang yang tertarik untuk mengikutinya. Bermacam-macam organisasi dengan beragam latar belakang ideology dan tujuan dapat kita temui, mulai dari yang berlatarkan agama, pendidikan (seperti yang terdapat di sekolah dan kampus,red), dan berbagai jenis lainnya.

Berbagai alasan dikemukakan ketika ditanyai apa yang menjadi alasan bagi seseorang ketika memutuskan untuk mengikuti suatu organisasi. Ada yang beralasan untuk mencari pengalaman, ingin tahu bagaimana berorganisasi, atau bahkan terkadang ada juga yang sekedar iseng atau ikut-ikutan temannya.

Organisasi menurut Schein (1982) adalah suatu koordinasi rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai bebrapa tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan fungsi melalui hierarki otoritas dan tanggung jawab. Sedang menurut Wright (1977), organisasi adalah suatu bentuk sistem terbuka dari aktivitas yang dikoordinasi oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama.

Ada begitu banyak organisasi yang terdapat di Indonesia. Ada organisasi massa, ada organisasi yang bertujuan untuk mencari profit dan adajuga organisasi yang terdapat dalam dunia kemahasiswaan atau yang lebih sering kita kenal dengan LKM (Lembaga kemahasiswaan).

Dalam menjalani kehidupan organisasi banyak hal yang tentu saja mewarnai perjalanannya baik itu bagi organisasinya itu sendiri atau bagi individu-individu yang ada didalamnya. Perjalanan suatu organisasi tentu saja tidak akan selalu lurus-lurus saja / damai terkadang selalu ada permasalahan yang dating untuk menguji kesolidan dari suatu organisasi. Permasalahan dari dalam organisasi sendiri bisa datang dari dalam organisasi itu sendiri (internal) atau dari luar lingkungan organisasi (eksternal).Tapi, segala permasalahan menyangkut kepentingan organisasi tentu bisa diselesaikan jika masalah tersebut diselesaikan bersama-sama.

Menjalani kehidupan menjadi anggota dari suatu organisasi adalah suatu pengalaman yang menyenangkan, banyak pengalaman yang akan kita petik dan pelajari dari setiap kegiatan atau bahkan masalah yang kita hadapi. Tetapi menjalani kehidupan organisasi juga mempunyai suatu tanggung jawab yakni untuk menjalankan tugas masing-masing sesuai jobdesk dan menjalankan program organisasi demi mencapai tujuan bersama.

Salah satu hal yang harus dikembangkan dalam kehidupan kita selama berorganisasi adalah sikap saling menghargai antara sesama anggota serta selalu berusaha untuk mendahulukan kepentingan bersama yakni kepentingan organisasi tanpa melanggar apa yang menjadi hak orang lain. Hal itu hanya akan bisa terjadi jika kita saling menghargai dan tahu akan jobdesk masing-masing.


  1. Perang intra personal dalam organisasi


Tak dapat dipungkiri bahwa terkadang dalam menjalani kehidupan berorganisasi, terjadi benturan kepentingan antara kepentingan organisasi dan jobdesk oraganisasi dengan kepentingan pribadi. Layaknya manusia biasa terkadang ego kita bermain lebih dominan daripada kesadaran kita akan tanggung jawab kita terhadap organisasi, terkadang kita akan merasakan suatu fase-fase tertentu dimana semangat kita untuk tetap rajin mengikuti kegiatan organisasi sedang tinggi-tingginya begitui juga terkadang ada fase dimana semangat itu menurun atau malah hilang sama sekali. Sebenarnya hal ini adalah hal yang lumrah dalam kehidupan dimana jika kita terus menerus melakukan kegiatan yang rutin secara continue maka kita akan mencapai suatu titik jenuh dimana rasa bosan dan malas akan datang menghampiri diri kita. Pemecahan untuk problem ini adalah kita harus mencari suatu hal yang bisa menjadi inspirasi atau semangat baru kita, hal tersebut bisa kita cari dari berbagai kegiatan yang menyengkan atau melakukan hobi yang kita sukai.

Tak jarang juga entah karena ego pribadi atau rasa jenuh kita kita lalu tidak melaksanakan apa yang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab. Kita lalu dengan sadar atau tidak lalu meninggalkan tanggung jawab kita tersebut dengan alasan pembenaran diri kita sendiri bahwa kita adalah manusia biasa yang tidak hanya ada dan hidup untuk dan demi organisasi tetapi di balik itu kita mengutarakan pembenaran bahwa kita juga memiliki permasalahan pribadi lebih penting daripada tanggung jawab kita pada organisasi.

Dilema, ya itulah memang yang akan kita rasakan jika kita ada dalam posisi tersebut. Disatu sisi kita menyadari bahwa kita mempunyai tanggung jawab yang walau bagaimana pun tidak bisa kita tinggalkan begitu saja tetapi disisi lain terkadang kita juga menginginkan waktu untuk mengurus diri sendiri.

Ada banyak cara yang mungkin akan dilakukan seseorang ketika ia dihadapkan dengan permasalahan benturan antara kepentingan pribadi dengan tanggung jawab pada organisasi. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam organisasi segala sesuatu hal dikerjakan secara bersama-sama maka tidak heran kalau jika hubungan emosional antara masing-masing anggota dalam suatu organisasi biasanya sangat erat. Maka tidak ada salahnya jika lalu kita sedikit membagi permasalahan yang sedang kita hadapi karena siapa tahu dengan sedikit berbagi maka permasalahan yang sedang kita hadapi dapat kita selesaikan sehingga kinerja kita dalam organisasi tersebut dapat kembali normal seperti sediakala.

Kalaupun kita mungkin tidak ingin masalah kita diketahui banyak orang atau karena tidak ingin orang lain ikut terlibat masalah kita maka yang kita butuhkan adalah waktu. Ya, kita mungkin harus meluangkan waktu kita kebih dahulu untuk menyelesaikan permasalahan yang kita punya dan jika masalahnya telah selesai barulah kita kembali kepada tanggung jawab kita didalam organisasi.

Segala permasalahan yang kita hadapi baik itu masalah internal organisasi, eksternal maupun permasalahan intrapersonal selama berorganisasi pada dasarnya adalah ujian menuju pendewasaan diri, dimana jika kita bisa melewatinya dengan baik tanpa mengorbankan kepentingan / urusan pribadi kita maka akan ada nilai pendewasaan diri yang dapat kita petik dan dapat kita praktekkan pada kehidupan yang nyata.


SEJARAH JURNALISME INVESTIGASI

Beberapa minggu setelah Cammy Wilson bekerja sebagai reporter di Minneapolis Tribune, editor kotanya member sebuah pebugasan ficer (feature). Ia diminta mereportase wanita berkursi roda, bagaimana orang cacat berjalan-jalan di kota. Wilson, seperti di kisahkan Melvin Mencher, menemani wanita itu kemana-mana, dari berbelanja sampai makan siang.

Dan pada akhir hari, wanita itu berkata, “Bukankah menyedihkan – jumlah yang harus kami bayar untuk kunjungan ke dokter?”
“Berapa?” tanya Wilson.
“Empat puluh hingga lima puluh dolar,” jawabnya.

Jawaban itu mengawali kerja Wilson, yang jauh lebih besar dibandingkan sekedar membuat ficer yang ditugaskan editornya. Wilson bertanya apakah wanita berkursi roda itu memiliki secarik resep atau bukti pembayaran untuk sekali kunjungan ke dokter. Rupanya, ia masih menyimpannya.
Berbekal secarik kertas itulah, Wilson lalu berhasil membeberkan skandal transportasi kesehatan bagi kaum cact yang bernilai miliaran dolar. Orang-orang miskin, para lansia dan orang –orang cacat yang jumlahnya cukup banyak, dikenakan biaya sebesar 40 hingga 120 dolar untuk perjalanan menuju tempat-tempat pemeriksaan medis. Untuk pemeriksaan di klinik kesehatan, pelbagai perusahaan juga mengenakan tarif individual (yang lebih tinggi) pada pasien, walaupun mereka dibawa secara berkelompok dari panti jompo atau panti perawatan.

Kisah Wilson menarik perhatian Departemen Kesehatan , Pendidikan dan Kesejahteraan di Washington DC, dan mengingat biaya Medicaid terlibat pula didalamnya – HEW turun tangan menginvestigasi. Anggota legislative Minnesota lalu mengadakan dengar pendapat. Hasilnya ditetapkanlah sejumlah peraturan, untuk meregulasi firma-firma transportasi.

Cuplikan kisah Wilson merupakan contoh bagaimana jurnalisme investigasi dikerjakan para wartawan. Dalam bentuk liputan yang lepas-lepas, dari tiap kisah-kisah yang dilaporkannya, investigative reporting dikerjakan Wilson. Semuanya memaparkan bagaimana penyelidikan menjadi alat pengungkapan kasus. Namun, bukan untuk kepentingan detektif partikelir yang disewa oleh seseorang, melainkan untuk kepentingan pelaporan peristiwa yang mesti diketahui masyarakat.

Reportase Wilson memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi yang ditutup-tutupi. Penyingkapan kasus menjadi penting. Pengungkapannya hanya bisa dilakukan dengan reportase yang tidak sekedar melaporkan berbagai fakta yang terlihat. Mencher menyebutnya sebagai upaya wartawan “mencium” sesuatu di balik sebuah peristiwa.

Kisah-kisah investigasi memang berbeda dengan kisah berita biasa. Berikut ini adalah laporan investigatif perang. Kisahnya terjadi di sebuah jembatan bernama No Gun Ri, di kawasan pinggiran Korea Selatan. Associated Press (AP) mengangkatnya. Situs asosiasi wartawan investigasi – International Consortium of Investigative Journalist.

Ratusan penduiduk Korea Selatan, yang tengah mengungsi, diberondong militer tentara GI Amerika. Pembunuhan itu dimulai ketika pesawat-pesawat Amerika Serikat tiba-tiba menyapu dan menghujani peluru sebuah wilayah pengungsi berbaju putih beristirahat. Tiga ratus pengungsi terbaring mati di bawah tonggak kembar jembatan. Sekitar 100 lainnya terbunuh dalam suatu serangan yang dilakukan pesawt-pesawat angkatan udara AS.

Laporan AP juga menginformasikan dua kasus lain yang berskala lebih kecil, namun serupa dengan pembunuhan-pembunuhan pengungsi yang terjadi pada Juli dan Agustus 1650.

Kejadian ini membuat No Gun Ri menjadi salah satu dari dua kasus pembunuhan noncombatants berskala besar yang dilakukan pasukan darat Amerika Serikat dalam perang besar abad ini. Konflik Korea dimulai pada 25 Juni 1950, ketika kaum komunis utara menginvasi dan mengirim tentara Korea Selatan serta kekuatan kecil pasukan Amerika Serikat menyusuri batas selatan ke ujung semenanjung. Sejak awal konflik tahun1950-1953, kekerasan-kekerasan orang Korea Utara dilaporkan secara luas. Namun kisah No Gun Ri tetap tak terungkap hingga setengah abad kemudian.

Kisah ini diungkap, pada tahun 2000, setelah hampir lima dekade disembunyikan oleh poihak Amerika, bahkan oleh pihak oleh pemerintah Korea Selatan sendiri.

Informasi itu didapat dari berbagai declassified documents, dokumen yang telah dideklasifikasikan. Declassified documents adalah kategori dokumen yang dulunya menjadi rahasia di arsip nasional Amerika Serikat, namun setelah melewati kurun waktu tertentu, biasanya 25-50 tahun, lantas dirilis ke tengah publik atau dipublikasikan secara bebas.

Selain penelusuran terhadap ratusan kotak dokumen-dokumen rahasia di arsip nasional dan tempat-tempat penyimpanan lain untuk menemukan potongan-potongan kisah, pengumpulanm, data juga didapat melalui pelacakan terhadap para veteran di seluruh Amerika Serikat. Berbulan-bulan melacak sekitar 130 orang veteran, untuk diwawancara melalui telepon ataupun secara langsung, AP akhirnya menemukan kelompok-kelompok yang terlibat.

AP merekonstruksi gerakan-gerakan unit dari koordinat-koordinat peta dalam catatan-catatan perang yang dideklasifikasi. Mereka memperlihatkan bahwa empat batalyon divisi kavaleri pertama berada diwilayah tersebut pada saat insiden yang dituduhkan terjadi.

Hukum-hukum dan tradisi aturan perang mengutuk pembunuhan warga sipil yang semena-mena, bahkan jika sejumlah tentara musuh ditemukan di antara sejumlah besar warga non petempur yang terbunuh, demikian catatan para pakar militer. Catatan perang Korea memperlihatkan persidangan pembelaan diri tentara angkatan darat hanya bagi kasus pembunuhan-pembunuhan individual orang-orang Korea, tidak untuk kasus berskala besar.


Dari Investigasi sampai Muckracking: di Amerika


Jurnalistik investigasi sebenarnya mempunyai jejak yang panjang dalam sejarah pers Amerika. Beberapa tokohnya tercatat, dalam literatur jurnalisme Amerika, sebagai pioonir pelaporan investigasi. Dengan berbagai kisah perjuangannya, mereka menetapkan pedoman pelaporan jurnalisme investigasi. Bahkan menggariskan cirri pemberitaan pers sebagai medium watchdog di khasanah jurnalisme.

Istilah investigasi sendiri baru muncul pertama kali dari Nellie Bly ketika menjadi rep[orter di Pittsburg Dispatch pada tahun 1890. Ia memulai gaya jurnalistik yang menandakan pengisahan seorang wartawan tentang orang-orang. Pelaporan materi jurnalistik yang mengembangkan, secara serial sebagaimana kehidupan orang kelas bawah di dalam kenyataan sehari-hari. Bly sampai harus berkerja di sebuah pabrik, di Pittsburg, untuk menyelidiki kehidupan buruh di bawah umur (anak-anak) yang dipekerjakan dalam kondisi yang buruk.

Namun, laporan serial jurnalistiknya tidak lama. Ia berhadapan dengan institusi, yang melakukan pelanggaran, yang memiliki daya beli iklan dari koran tempat Bly bekerja. Akibatnya, lembaga tersebut menghentikan pembelian halaman iklan Pittsburg Dispatch. Dan pihak editor mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan pemberitaan Nellie Bly.

Akan tetapi, dari kisah awal tersebut, Bly lalu mendapatkan lahan penulisan yang terus dikembangkannya. Keistimewaan laporan jurnalistik investigative Bly terletak di tuntutan “penyelesaian yang meminta jalan keluar” dari problema sosial yang terjadi di masyarakat.


Sumber : Jurnalistik Investigasi, Septiawan Santana

Rabu, 11 Maret 2009

My Story @ HIMAKOM UNPAS I


KONFLIK PRIBADI = KONFLIK INTERNAL ?

Dalam kehidupan kampus FISIP UNPAS, sistem pemerintahan yang ada bisa di bilang hampir menyerupai kehidupan nyata yang ada di negeri Indonesia. Ada lembaga Legislatif nya yakni Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), ada lembaga eksekutifnya yakni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa (HIMA) dari beberapa dan ditambah lagi dengan adanya lembaga pers yakni BPPM.

Saya sendiri tergabung sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM),sebagian besar waktu saya telah saya lewatkan dengan berbagai aktivitas / kegiatan himpunan. Sudah cukup banyak program yang saya ikuti, banyak pelajaran juga yang dapat saya petik dari berbagai kejadian yang terjadi di dalamnya mulai dari bagaimana kita harus berani untuk berpendapat, berani mengambil tanggung jawab dalam suatu kegiatan, bagaimana kita belajar menghadapi begitu banyaknya personal yang ada dengan masing-masing latar belakang dsb.

Dalam rentang waktu hampir 3 tahun saya berada di himpunan telah banyak pembelajaran yang saya pelajari, bagaimana bahwa tidak mudah untuk menjalani kehidupan ganda yakni kewajiban sebagai mahasiswa dan tanggung jawab sebagai pengurus himpunan. Kedua peran ini menuntut untuk dapat di jalankan secara seimbang. Sulit memang pada awalnya untuk belajar memanage waktu agar saya bisa menjalani keduanya secara bersamaan tapi seiring dengan berjalannya waktu akhirnya saya mulai terbiasa menjalaninya.

Sulit menyangkalnya bahwa menjalani suatu kehidupan organisasi itu dapat di ibaratkan sebagai suatu hal yang addicted, dimana makin kita menjalaninya maka kita akan makin mencintainya dan akan susah untuk lepas dari kehidupan berorganisasi (dalam maksud yang baik,red). Walaupun menjalaninya tidak mudah dan menuntut tanggung jawab yang tinggi tapi saya sudah kadung “kecanduan” terhadap berorganisasi dan saya tidak berharap saya dapat sembuh darinya.

Banyak hal yang sudah saya alami selama berorganisasi, mulai dari hal yang menyenangkan sampai hal-hal yang menyebalkan / mengecewakan. Hal-hal yang menyenangkan contohnya jika kita berhasil menjalankan suatu kegiatan, berkumpul bersama dll. Sedangkan hal yang menyebalkan / menyedihkan seperti jika kita gagal dalam menjalankan suatu kegiatan atau ketika kita dihadapkan pada konflik yang terjadi selama perjalanan organisasi kita.

Konflik, ya konflik adalah suatu hal yang wajar di hadapi oleh suatu organisasi. Suatu hal yang mustahil jika suatu organisasi tidak pernah mengalaminya. Konlik sendiri dapat di bedakan dalam dua kategori yakni konflik internal dan konflik eksternal.

Saya telah sering menghadapi / melihat konflik yang terjadi dalam suatu organisasi dan terus terang menurut saya konflik ini lah yang paling berat menghadapinya dann dibutuhkan suatu solusi bersama dalam menghadainya. Konflik internal dapat bermula dari adanya ketidak puasan terhadap kinerja yang terjadi di dalam organisasi atau dapat pula bermula dari konflik pribadi yang ada diantara masing-masing pribadi yang ada di dalam organisasi. Syukurnya anggapan bahwa tidak ada suatu masalah yang tek bersolusi itu benar adanya sehingga setiap konflik yang terjadi dapat dicarikan solusinya.

Setelah cukup lama mengamati kehidupan berorganisasi, saya mempunyai suatu analisa bahwa konflik internal dapat berimbas pada konflik pribadi dan begitu juga sebaliknya konflik pribadi dapat berimbas pada konflik internal dalam organisasi. Terkadang konflik internal yang terjadi diawali oleh adanya kesalahpahaman antara beberapa orang yang disebabkan oleh berbagai sebab misalnya ketidak pahaman akan tugas organisasi atau ketidakhadiran pada saat rapat suatu kegiatan atau malah terkadang karena masalah sepele saling ejek atau bercanda yang berlebihan antara individu dimana ada individu yang merasa tidak terima dengan hal itu atau berbagai hal-hal pribadi antara satu anggota dengan yang lainnya. Berbagai sebab tersebut terkadang menjadi pemicu terjadinya suatu konflik internal di dalam suatu organisasi

Begitu juga terkadang pada saat konflik internal itu lah akhirnya merembet kepada konflik pribadi antara satu orang dengan lainnya. Misalnya ketika kita dihadapkan pada suatu konflik dalam suatu kegiatan dimana salah satu individu tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan benar dan ia mendapat teguran dari pimpinan kegiatan tapi sayangnya ia tidak dapat menerima teguran itu dengan lapang hati dan menganggap bahwa kesalahan itu ada pada sang pemimpin kegiatan sehingga muncullah konflik pribadi diantara keduanya.

Sulit memang untuk memisahkan antara mana yang konflik pribadi dan mana yang konlik internal organisasi karena jika tidak bijaksana dalam menyikapinya maka konflik internal akan berkembang menjadi konflik pribadi begitu juga konflik pribadi bisa menjadi suatu konflik internal organisasi. Diperlukan suatu kedewasaan untuk dapat memilah dengan benar mana yang konflik internal organisasi dengan mana yang konflik pribadi sehingga kita pada akhirnya dapat membedakannya dan dapat menyelesaikannya masing-masing tanpa akhirnya mencampurkan kedua konflik tersebut menjadi satu yang mana justru akan berimbas negatif pada kondisi organisasi dan ketentraman internal organisasi.

Kondisi internal yang positif lah yang tentunya diinginkan oleh setiap pihak tapi jangan pernah berpoikir bahwa konlik adalah sesuatu yang negatif. Tidak, konflik tidak selalu negatif atau buruk karena konflik ada untuk di carikan solusinya. Dari setiap konflik yang terjadi, jika kita mampu memanage nya dengan baik maka kita akan mendapat suatu hikmah pelajaran didalamnya yang berguna dalam perjalanan organisasi kedepannya.

Selasa, 03 Maret 2009

CAMPUS PARQUE UNPAS GOES TO FINAL 4


Bandung“CAMPUS PARQUE UNPAS masuk ke babak final.” ujar Arif Teguh Laksana, ketua pelaksana acara CAMPUS PARQUE UNPAS. Unpas masuk kebabak final setelah berhasil menampilkan konsep acara yang menarik dan dihadiri oleh kurang lebih dari 150 orang pengunjung yang rata-ratanya adalah mahasiswa UNPAS. “UNPAS melangkah ke babak final karena mendapat kredit tersendiri melalui penampilan vocal grup, P – Voices dan karena kepadatan pengunjung yang memadati acara.” terang Arif mengenai alasan kenapa UNPAS bisa masuk kebabak final.
Bertempat di SCORE, Ciwalk, Campus parque UNPAS di gelar pad tanggal 17 Desember 2007. Acara sendiri dimulai pada pukul 22.00 WIB dan berakhir pada pukul 01.00 WIB. Acara dimeriahkan oleh penampilan Rockie Band, P-Voices, Anonymous Dancer, Band-Band Campus dan Home Band dari SCORE sendiri.
Kepastian melajunya UNPAS ke babak final sendiri baru dikonfirmasi sehari sesudah acara. UNPAS sendiri dibabak final sudah di tunggu oleh ENHAII dan Universitas Maranatha. Sedangkan satu tempat kosong lagi masih akan dicari. Acara finalnya sendiri akan berlangsung di bulan April 2009.
Ditanya mengenai kesiapan untuk kembali membuat acara, Arif menjawab dengan antusias “Yang pasti kami (panitia,red) sangat senang dengan melajunya UNPAS ke babak final dan tentu saja kami siap untuk acara kedepan, apalagi ini juga membawa nama kampus”. “Tak lupa pula saya mewakili segenap panitia mengucapkan terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah ikut terlibat mensukseskan acara ini, kami berjanji akan memberikan penampilan yang lebih baik pada saat final nanti,” ucap Arif.

SAMPAH DAN ASPEK-ASPEK DIDALAMNYA

Disadari atau tidak, sampah telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bagaimana tidak, hampir setiap hari atau bahkan setiap saat kita selalu menghasilkan sampah dari setiap kegiatan yang kita lakukan. Ketika kita makan, ketika kita minum atau ketika kita menulis di kertas yang lalu kita buang.

Menurut pengertiannya sendiri sampah adalah suatu zat atau benda sisa dari hasil penggunaan yang sudah tidak mempunyai fungsi kegunaan. Menurut jenisnya sendiri sampah dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :

· Sampah Organik:

Adalah jenis sampah yang berasal dari mahkluk hidup, sampah jenis ini bisa diuraikan

Contoh : -sampah daun

-sampah buah-buahan

-sampah rumah tangga

· Sampah Anorganik

Adalah jenis sampah yang sampah buatan. Sampah yang berasal dari barang-barang buatan manusia. Sampah jenis ini tidak dapat di uraikan

Contoh : -sampah plastik

-sampah industry

Pada saat ini, peningkatan jumlah volume sampah yang terjadi dikota-kota besar Indonesia sangat lah besar. Besarnya jumlah sampah yang dihasilkan kota-kota besar di Indonesia tidak lepas juga karena banyaknya jumlah masyarakat yang ada di Indonesia. Hampir setiap rumah tangga menghasilkan jumlah sampah yang tidak sedikit setiap harinya, belum lagi sampah-sampah yang berasal dari warung-warung, rumah makan, pabrik dan tempat tempat lainnya yang jumlah sampah perharinya jauh lebih banyak daripada sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga.

Masalah yang dialami oleh kota besar lainnya terkait dengan masalah volume sampah juga dialami oleh kota Bandung. Padatnya jumlah penduduk kota Bandung berimplikasi langsung pada tingginya volume sampah perhari yang dihasilkan oleh kota Bandung. Jumlah itu belum termasuk jika ditambah dengan jumlah sampah yang dihasilkan oleh tempat-tempat kuliner yang begitu banyak di Bandung.

Jumlah sampah yang dihasilkan oleh kota Bandung dapat kita lihat di seputaran jalan-jalan kota Bandung. Karena begitu banyaknya jumlah sampahnya terkadang tidak semua sampah dapat diangkut oleh mobil dinas pengangkut sampah yang bertugas untuk mengambil sampah yang dihasilkan masyarakat Bandung.

Biasanya sampah-sampah yang dihasilkan masyarakat dikumpulkan didekat rumah atau dibuang ditempat pembuangan sampah sementara yang terdapat di dekat rumah masing-masing. Dalam keadaan normal biasanya sampah diangkut oleh petugas sampah setiap sehari sekali. Tapi karena terbatasnya jumlah petugas, jumlah mobil pengangkut sampah maka terkadang sampah diangkut lebi dari satu hari. Bahkan pada suatu saat pernah didekat rumah saya,bak / tangki sampah penampung sampah tersebuit sudah hamper seminggu tidak diambil oleh petugasnya. Padahal sampah yang ada sudah menggunung dan sudah mengeluarkan bau yang tidak sedap dan lebih parahnya lagi dari bak sampah itu terdapat banyak belatung. Hal ini tentu saja mengganggu kenyamanan umum dan keadaan ini tidak sehat untuk lingkungan sekitar dan dapat menggangu kesehatan.

Pemerintah kota Bandung bukannya tidak menyadari dan tidak melakukan usaha-usaha untuk berbagai usaha diusahakan,salah satunya dengan membangun TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu), di sini semua sampah yang dihasilkan masyarakat akan dikumpulkan lalu dipisahkan sesuai jenis nya dan lalu sampah-sampah organic akan diolah menjadi pupuk organic. Tapi sayangnya tidak semua TPST dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pembangunan TPST dibebrapa daerah mendapat tentangan yang beragam alasan oleh masyarakat yang tinggal disekitar TPST terkait. Beragam masalah yang membuat TPST mendapat tentangan dari masyarakat antara lain karena ketakutan masyarakat akan akibat penyakit yang ditimbulkan oleh pengolahan sampah di TPST, karena terganggu oleh bau yang dihasilkan TPST atau karena persoalan tanah TPST yang belum selesai atau menjadi sengketa dengan masyarakat sekitar.

Masalah tingginya volume sampah sebenarnya adalah masalah klasik yang sudah sering kali terjadi. Ada baiknya jika sebagai masyarakat kita juga berperan proaktif dalam usaha pengelolaan sampah yang ada disekitar kita. Ada baiknya hal itu ita mulai dengan cara mulai membedakan pembuangna jenis sampah tergantung dari jenis sampahnya, apakah itu sampah organic atau sampah anorganik karena dengan memisahkan sampah dengan berdasarkan jenisnya maka akan lebih mempermudah proses pengolahan sampah tersebut, cara seperti ini malah sudah lebih dulu dipraktekkan dinegara-negara luar seperti Jepang yang setiap warganya selalu membuang sampah berdasarkan jenisnya. Hal lainnya adalah mulai membiasakan diri kita masing-masing untuk membuang sampah pada tempatnya dan jangan pernah membuang sampah ke sungai karena selain merusak pemandangan tapi juga dapat menjadi penyebab terjadinya banjir dikala musim hujan tiba.

Saya pernah melihat suatu acara di tv swasta dimana di dalam nya memperlihatkan bagaimana warga suatu daerah di Jakarta bisa “bersahabat” dengan sampah. Bersahabat dengan sampah disini adalah para ibu-ibu didaerah tersebut bisa memanfaatkn sampah-sampah organic yang ada seperti sampah sayuran, daun-daun dan berbagi sampah organic lainnya untuk diolah menjadi pupuk organik yang lalu dipakai untuk mempupuki tanaman mereka bahkan pupuk tersebut dapat mereka jual. Pada kesempatan lain saya melihat dimana sampahsampah anorgnik dapat diolah menjadi suatu benda yang mempunyai nilai ekonomis lebih. Dalam hal ini sampah-sampah plastic seperti bungkus isi ulang minyak goreng, sabun cuci diolah menjadi beragan aneka jenis tas yang dapat dijual. Dapat kita lihat jika kita kreatif dalam melihat peluang maka dari sampah pun kita bisa mendapatkannya sekaligus secara tidak langsung ikut membantu pemerintah dalam menanggualangi masalah sampah yang ada di kota Bandung ini.

Jadi pada dasarnya masalah penanganan sampah yang ada di kota Bandung ini adalah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata tapi kita sebagai masyarakat juga dapat ikut serta berperan aktif dalam penanganannya. Karena masalah sampah ini sekali lagi adalah masalah kita bersama